Menu

salah satu pantai di maumere yaitu pantai koka
"MOKE DULU BARU BERANI" (banyak yang salah mengartikan, bahkan orang Maumere sekalipun! terutama mereka, para generasi muda)
Seminggu sebelum saya terbang ke Malang, saya bertemu dengan seorang bapa tua berumur 60 tahunan (tapi ternyata 77 tahun) bernama Oscar Parera Mandalangi. Nama besar beliau pun sudah sering saya dengar. pernah bertemu sekali saat menjuri di acara lomba siaran radio yang diselenggarakan Forum Anak Sikka.
Pertemuan itu tidak disengaja. saat itu saya berkunjung ke rumah bapak angkat saya, Bapa Itje, pemilik galeri seni di seputaran kota Uneng. Beliau langsung menyapa saya dengan bahasa inggrisnya yang dialek australia-nya yang sempurna. Saya seketika terpukau.. orang setua itu dengan logat yang begitu bagus. beberapa pembicaraan pertama berlangsung dalam bahasa Inggris, lalu kemudian beliau kembali ke bahasa Indonesia dengan ditambah logat Jawa yang membuat saya serasa pulang kampung. pembicaraan mengalir budaya dan kearifan lokal di Kabupaten Sikka. sampai kemudian saya teringat waktu saya kuliah dulu saya sering dapati tulisan di kaos teman-teman mahasiswa asal Maumere berbunyi seperti ini "MOKE DULU BARU BERANI" kemudian terdapat terjemahan dibawahnya "minum dulu baru berani". waktu pertama kali saya membaca itu, saya langsung menanyakan kembali tentang makna dari tulisan "MOKE DULU BARU BERANI" ke teman dari Maumere itu, KENAPA?? simple: agar tidak terjadi interpretasi yang salah dari saya.
teman itu menjawab: itu artinya kami harus minum dulu sampai mabok, baru kami berani.
aduh..... ternyata apa yang saya pikirkan itu benar.
Terus saya tanya lagi : berarti kalo tidak minum kalian tidak berani?
dia jawab: "ya kami harus minum dulu. nanti kan kalo mabok kami jadi tidak malu lagi, jadi kami berani."
lalu saya tanya sekali lagi :"loh itu kan melemahkan kalian. artinya kalian tergantung pada minuman. berarti kalian tidak bisa betul-betul berani.".
dan teman itu menjawab: "lah itu kan budaya kami.."
"oh baik" pungkas saya menutup pembicaraan.
sejujurnya saya meragukan jawaban itu. bukannya semboyan itu justru MELEMAHKAN ORANG MAUMERE. HARUS ADA DOPPING DULU untuk menjadi beranil. pantesan ketika di kelas banyak yang hanya diem saja. ga aktif di perkuliahan, apakah kalian harus minum dulu?!?!?!
bertemu dengan seorang Oscar Mandalangi, maka saya tumpahkan rasa penasaran saya. Beliau menjelaskannya dengan begitu bijak. Dan saya merasa punya kewajiban untuk share ke link ini, kenapa? simple juga: karena saya mencintai daerah ini, warganya, generasi mudanya, dan karena saya sudah menjadi salah satu warga di Kabupaten Sikka.
beliau menjelaskan seperti ini:
MOKE itu pada dasarnya digunakan untuk TIGA HAL:
YANG PERTAMA: UNTUK TANDA KEABSAHAN/PERSETUJUAN. jaman dulu, kata beliau, ga ada namanya stempel sebagai tanda sah sebuah persetujuan. jadi untuk persetujuan di meja adat, maka disimbolkan dengan minum moke.
YANG KEDUA: UNTUK ACARA RITUAL. hal ini berhubungan dengan keyuakinan, religi seperti halnya ketika misa, ada anggur, maka disini ada moke
YANG KETIGA UNTUK BRAIN WASHING. kalau orang barat menemukan komputer dan bangga akan hal barang dari logam yang mampu menyimpan data hingga ber-giga-giga besarnya... maka sebagai orang Maumere harus bangga karena mempunyai komputer yang luar biasa justru sebelum komputer itu ditemukan. yaitu OTAK MANUSIA. jagi para pendahulu kita mempunyai kemampuan merekam data yang sangat luar biasa. nah untuk memanggil data itu kiembali diperlukan moke agar pendahulu kita bisa bicara mengalir dan terbukalah semua memori (BRAIN WASHING). NAH ITULAH YANG AKHIRNYA SALAH DIARTIKAN GENERASI MUDA SAAT INI.. TIDAK SEHARUSNYA MOKE ITU DIMINUM SEMBARANGAN, UNTUK MABUK2AN, KARENA SUDAH BANYAK KORBAN BERJATUHAN. itu kata beliau, Oscar Mandalangi.
hal yang perlu kita ketahui adalah, bahwa apa yang beliau sampaikan ini pernah beliau bawakan dalam seminar ilmiah di hadapan para mahasiswa di MELBOURNE UNIVERSITY!!
MARI KITA RENUNGKAN.....
SEMOGA TULISAN INI BERMANFAAT

Klik this Original Post

0 comments:

Post a Comment

 
Top